Senin, 14 Oktober 2013

PRESENTASI
Nama               : Rani Alida simbolon
Semester           : v (lima)
Mata kuliah     : Pengembangan Kurikulum PAK
Dosen              : Dr.Uli Saut. P. Nainggolan M.Th
Judul               : Landasan Sosial~ Budaya Dalam Pengembangan Kurikulum

Latar Belakang
Pada zaman dahulu, waktu manusia masih hidup dalam rombongan-rombongan masyarakat kecil, terpencil dan sederhana, pendidikan anak-anak untuk kehidupannyan dalam masyarakat itu diselenggarakan di luar sekolah dan tanpa sekolah. Segala sesuatu pendidikan diperoleh dari lingkungan tanpa pendidikan formal di sekolah.  Disamping itu ia mempelajari adt-istiadat yang turun temurun dari nenek moyangnya sehingga ia dapat menagtur kelakuannya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
            Akan tetapi pendidikan itu tidak serasi lagi apabila terjadi perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang menuntut syarat-syarat yang lebih tinggi dan lebih berat dari tiap warga negara. Ank-anak harus memiliki bermacam-macam keterampilan dan sejumlah besar pengetahuan agar hidupnya terjamin. Perubahan dalam masyarakat, terutama dalam akhir-akhir ini sangat cepatnya, sehingga sering sekolah tidak sanggup mengkuti jejak kemajuan masyarakat. Akibatnya : sekolah bertambah lama bertambah jauh ketinggalan dan di cap konservatif, tradisional. Sekolah tidak dapat  bergerak secepat masyarakat dan sering sekolah berpegang teguh pada mata pelajaran yang dahulu memang fungsionalnya, akan tetapi  dalam masa moderen ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan zaman. Timbullah kecaman bahwa sekolah itu kolot mengasingkan diri dari masyarakat dan karena itu tidak mampu dan serasi lagi untuk mempersiapkan anak-anak bagi kehidupan mereka dalam dunia modern ini. Kritik serupa ini akan selalu timbul dan mengharuskan sekolah untuk meninjau kurikulumnya kembali agar lebih relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

LANDASAN SOSIAL-BUDAYA, DALAM  PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan penddikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan karena memang pendidikan mempersiapkan kita generasi muda untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya pendidikan tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapa perkembangan lebih lanjut dimasyarakat.
Menurut Esther Mariana, M.Th bahwa pendidikan adalah bukan ditentukan formal atau non-formalnya akan tetapi segala sesuatu yang menambah ilmu kita adalah pendidikan sehingga Beliau menyebut seni dalam pendidikan (the art of education). Oleh karena itu , tujuan,isi,maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.
A.    Pendidikan Dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan yaitu : 1) pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. 2) pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat. 3)pelaksanaaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Pelaksanaan pendidikan membutuhkn dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas,personalia,sistem sosial budaya, politik, keamanan dan lain-lain.
            Tujuan umum pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota msyarakat yang mandiri dan produktif. Hal itu merefleksikan konsep adanya tuntutan individual (pribadi) dan sosial dari orang dewasa kepada generasi muda. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaannya pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan  dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda sistem sosial-budaya, lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada. Menurut Prof.DR. Nana Syahodih Sukmadinata menuliskan dalam bukunya bahwa setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya yang berbeda. Sistem sosial-budaya ini mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat, antar anggota dan lembaga, serta antara lembaga dan lembaga.
            Salah satu aspek yang cukup penting dalam sitem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai. Tatanan nilai merupakan seperangkat ketentuan, peraturan ,hukum,moral yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Dan nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, budaya ,kehidupan politik, maupun segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yanga da dalam masyarakat juga selalu berkembang, dan mungkin pada suatu saat perkembangan itu drastis, sehingga tidak jarang menimbulkan perbedaan bahkan konflik nilai.
            Perbedaaan konflik nilai tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan tatanan yang berakar pada perbedaan-perbedaan pola-pola kebudayaan.menurut Tylor (1871), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan ,kesenian,hukum,moral,adat-istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arti yang lebih mendasar, pendidikan merupakan suatu proses kebudayaan. Setiap generasi muda menempatkan dirinya dalam urutan sejarah kebudayaan. Menurut Israel Schefflee (1958) melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban masa sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.
            Proses pembudayaan tidak berlangsung secara sendirian, melainkan harus dalam interaksi dengan orang lain, interaksi dalam lingkungan. Kehidupan massyarakat tidak dapat terlepas dari tempat masyarakat itu berada. Masalah tempat menyengkut linkungan alam dan keadaan geografis. Lingkungan alam dan geografis mempengaruhi perilaku dan pola hidup para anggota masyarakat.  Kehidupan masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telh dicapainya.
B.     Perkembangan Masyarakat

1.      Perubahan Pola pekerjaaan
Karena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yang cukup drastis dalam pola pekerjaan.masyarakat yang secara berangsur-angsur terutama diperkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan  yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Dalam hidup pola industri, sifat-sifat yang dimiliki masyarakatnya lebih jauh bebeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas-tugas dalam suatu pekerjaan melahirkan spesialisasai tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya keragaman tugas dan pekerjaan. Bekerja dibidang industri tidak lagi bergantung kepada musim (hujan atau kemarau,panas atau dingin), bisa bekerja sepangjang masa, malah bisa bekerja siang atau malam. Hal ini mengakibatkan hidup santai ditinggalkan dan diganti dengan pola hidup yang kerja keras mengejar target meningkatkan produksi.
Dan bekerja dengan tugas masing-masing dan sesuai dengan konsentrasi masing-masing, oleh karena itu sifat gotongroyaong semakin menipis dan diganti dengan alur kerja sama sesuai dengan alur kerja. Penggunaan peralatan berteknologi tingi tidak menuntut banyak orang, tetapi sedikit orang akan tetapi berkemampuan tinggi. Sifat kompetetif, baik dengan sesama karyawan maupun dengan waktu atau prestasi sebelumnya, lebih mewarnai kehidupan dalam masyarakat industri. Perubahan yang terjdi ini bukan saja karena peralatan baru atau jenis pekerjaan yang baru, tetapi karena dunia berorientasi pada pasar.
2.      Perubahan Peranan Wanita
Dewasa ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengan kaum pria, sebagai akaibat emansipasi yang membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk memperoleh pendidikan. Diperkuat dengan perubahan pandangan tentang kedudukan wanita, wanita tidak lagi hanya bekerja di rumah, mengurus anak dan keluarga seperti pada pola kehidupan lama.
            Dengan bekerja di luar rumah, wanita lebih bebas bergerak, berkarya dan berkreasi dibandingkan apabila hanya bekerja di rumah tangga. Wawasaan dan pengetahuan mereka luas, potensi-potensi yang dimilikinya da[pat diwujudkan dan disalurkan. Memang banyak pekerjaan-pekerjaan yang lebih berhasil bila dikerjakan oleh wanita. Wanita yang bekerja dapat menambah penghasilan keluarga sehingga kesejahteraan ekonomi nkeluarga lebih baik.
            Disamping sejumlah kebaikan dari para wanita yang bekerja, sejumlah masalah dan kesulitan juga muncul. Masalah pertama berkenan dengan kehidupan sosial-pribadi wanita. Wanita yang bekerja apabila menikah mempunyai tugas ganda, menyelesaikan tugas-tugas keluarga. Masalah kedua berkenan dengan kehidupan keluarga. Wanita betapapun tinggi tingkat pendidikan dan jabatan yang dipegangnya, tidak bisa dilepaskan dari kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan ibu. Tugas yang banyak menyita waktu, tenaga dan perhatian dalam pekerjaan dan karier, bgaimanapun akanmenelentarkan pelaksanaan tugas-tugasnya dalam rumah tangga. Hal itu mengakibatkan keluarga tidak harmonis, pendidikan anak terbengkalai, kesejahteraan rumah tangga terabaikan dan mungkin terjadi perpecahan keluarga(Broken Home). Perpecahan keluarga ada dua macam pecah secara stuktur à cerai antara suami dan istri dan kedua pecah secara fungsi àtidak bercerai tetapi masing-masing pihak tidak melaksanakan fungsi yang semestinya.
            Masalah ketiga brkenaan dengan situassi pekerjaan. Pekerjaan dan karier bukan hanya tempat beristirahat, tetapi tempat berkarya, berekreasi, berprestasi dan berkompetensi. Situassi tersebut akan menuntut sikap,penampilan,pemikiran dan unjuk kerja yang optimal. Masalah tersebut akan bertambah lagi apabila terjadi situasi-situasi yang tidak sehat atau meyimpang.
3.      Perubahan Kehidupan Keluarga
            Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat.  Pola kerja masyarakat modern (industri) menuntut waktu kerja yang tidak teratur, melebihi waktu biasa. Dalam keluarga ,anak juga mempunyai masalah sendiri. Anak-anak yang belum bersekolah tinggal dirumah bersama pembantu. Mereka lebih banyak hidup dan bergaul dengan pembantu daripada dengan orang tuanya.
            Banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja akan seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi bila suami-istri bekerja penghasilan mereka jauh lebih banyak.  Penghasilan tinggi akan meningkatkan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Disamping memperoleh nilai lebih dari pola kerja pada masyarakat modern, beberapa masalah juga dihadapi dalam kehidupan keluarga. Kesibukan di luar batas kewajaran bisa mengorbankan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga.  Hubungan  harmonis antara suami-istri , komunikasi pedagogis antara orangtua dan anak bisa sangat terbatas,bahkan mungkin hilang.
Di lain pihak juga memberikan sumbangan tentang aspek sosial ~ budaya ialah :
            Perubahan pola hidup, yaitu terjadinya perubahan dari masyarakat agraris tradisional menuju kehidupan industri modern.Perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa  :
a. Pola kerja, pada masyarakat agraris cenderung teratur berlangsung siang hari, dari pagi hingga sore, tetapi tidak demikian pada masyarakat indutri, mereka cenderung tidak teratur, dan memiliki waktu yang lebih panjang.
b. Pola hidup yang sangat bergantung pada hasil teknologi, pada masyarakat industry ketergantungan pada hasil teknologi lebih tinggi, bahwa dalam kehidupannya menjadi suatu yang harus dipenuhi, daripada masyarakat petani yang agraris tradisional
c. Pola hidup dalam system perekonomian baru, yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi, ditandai dengan penggunaan produk perbankan dengan sistim baru, munculnya pasar modern yang semakin menggeser pasar tradisional, tidak hanya membawa dampak positif saja tetapi  terkadang pengaruh negative terhadap pola hidup masyarakat. Tiga hal tersebut merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan menyusun kurikulum, sehingga dapat ditentukan muatan atau materi untuk bekal menghadapi kondisi tersebut.
d. Perubahan kehidupan politik, yaitu perubahan politik yang diakibatkan era globalisasi, perubahan yang terjadi baik dalam wilayah nasional maupun internasional. Sebagai contoh di Indonesia, dengan era reformasinya, maka semua aspek berubah, tidak terkecuali pendidikan. Pendidikan harus diarahkan untuk menciptakan manusia yang kritis dan demokratis. Karena itu perubahan kea rah transparansi harus ditangkap oleh para pengembang kurikulum. Kehidupan demokratis harus menjiwai kurikulum. Hal ini yang mendasari munculnya produk hukum yang memberikan kewenangan daerah untuk mengurusi rumah tangganya termasuk dalam bidang pendidikan. Sinyal yang harus ditangkap para pengembang kurikulum di daerah, untuk memberdayakan pendidikan sebagai pembentuk generasi yang handal sesuai dengan nilai dan kebutuhan masyarakat local, nasional, maupun global. Berkaitan dengan sosial budaya ini yang harus dilakukan oleh para pengembang sebelum menyusun kurikulum ialah:  
a. Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam peraturan,perundangan.  
b.Menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah/madrasahberada c.Menganalisiskekuatan serta potensi daerah
d.Menganalisis syarat dan tuntutan tenagakerja
e. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat
KESIMPULAN :
            Kurikulum merupakan suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum memiliki peran dalam mengarahkan pelaksanaan dan hasil pendidikan. pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.  Untuk itu muncullah pengembangan kurikulum yaitu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sumber Buku : Prof.Dr.S. Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”, Prof. Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan Kurikulum”,  Arif Rohman menuliskan dalam bukunya “Pendidikan Komperatif”.


























           



Landasan sosial budaya
Kurikulum merupakan suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum memiliki peran dalam mengarahkan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita telah memahami bersama bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakatnya. karena itu, pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita semua berharap muncul manusia – manusia mampu memahami masyarakat dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Dengan pentingnya peran kurikulum tersebut, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyarakat, yang mana setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang, sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan evalusi, pengembangan, penyesuaian, bahkan perubahan pola hidup masyarakat mengikuti tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat. Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan menjadikan perkembangan sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global sebagai salah satu landasan yang harus dijadikan tempat berpijak.
Kita maklumi bersama bahwa masyarakat tidak bersifat statis. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat juga mengalami perubahan, menuju masyarakat yang semakin kompleks. Perubahan tersebut bukan hanya terjadi pada system nilai tetapi juga pada pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Kompleksitas tersebut yang selanjutnya memunculkan kelompok-kelompok sosial, tertentu yang selanjutnya memengaruhi kurikukulum, seperti tekanan-tekanan dari kelompok politik tertentu terhadap materi pendidikan, belum lagi tekanan dari kelompok lain yang memiliki pandangan yang berbeda.
Pengembang kurikulum, meskipun sulit, harus memerhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat yang berbeda-berbeda. Di sini perlu adanya usaha untuk menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya para pengembang kurikulum perlu menjalankan peran evaluative dan kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum, untuk menentukan muatan-muatan yang memang layak untuk dimasukkan dalam kurikulum.

           
Sumber Buku :
Prof.Dr.S. Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”
Prof. Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan Kurikulum”